Kemdiktisaintek–APTISI Perkuat Sinergi Peningkatan Mutu dan Akses Pendidikan Tinggi

Kabar

05 February 2026 | 12.00 WIB

Kemdiktisaintek–APTISI Perkuat Sinergi Peningkatan Mutu dan Akses Pendidikan Tinggi


Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sain dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof Togar Mangihut Simatupang, pada hari Kamis 29 Januari 2026, di ruang meeting Kantor Sekjen Kemdiktisaintek, menerima audiensi pimpinan APTISI  dan mitra strategis APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) yakni  PT Surge (Solusi Sinergi Digital serta  APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia).


Dalam audiensi tersebut APTISI dan mitranya mendiskusikan agenda 1) percepatan peningkatan mutu pendidikan tinggi khususnya PTS dan 2) penyediaan akses pendidikan tinggi untuk kalangan. masyarakat yang kurang mampu.  Di samping agenda tersebut, APTISI yang telah bersinergi dengan  PT Surge dan AIPJII menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi aktif menyukseskan kebijakan Diktisaintek Berdampak.  APTISI dan mitra akan bersinergi dengan Kementerian untuk mengakselerasi peningkatan APK pendidikan tinggi yang inklusif yang akan dilayani oleh lebih dari 2.500 PTS dan layanan internet yang terjangkau yang disediakan oleh mitra APTISI.


Dalam audiensi tersebut Prof. Togar menyampaikan arahan terkait pergeseran paradigma pendidikan tinggi dan konsep pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning). Beliau menyampaikan dalam sistem pendidikan tinggi, perguruan tinggi dituntut untuk mempersiapkan lulusannya agar dapat beradaptasi.  Dalam konteks adaptasi terhadap kebutuhan industri, Prof Togar menyebutkan bahwa PTS harus menyediakan layanan yang memiliki empat dimensi, yang dirancang untuk mempersiapkan individu menjadi profesional yang handal. Dimensi-dimensi tersebut meliputi:


1. Mikroprofesional: Persiapan untuk memasuki karir baru, mengakselerasi karir, atau bahkan mengubah karir.

2. Mikroekstra: Peluang belajar hal-hal baru yang sesuai dengan tugas, minat, atau kebutuhan individu.

3. Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL): Pengakuan terhadap pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya, juga dikenal sebagai micro-recognition.

4. Mikroskolar: Kesempatan untuk mendalami suatu bidang pengetahuan secara lebih intensif, mendukung individu dalam mendesain dan mengeksplorasi bidang tertentu lebih dalam.


Dengan pendekatan proses multidimensi setiap individu harus memiliki kemampuan adaptif sehingga kompetensinya  harus sesuai dengan permintaan pasar kerja di era digital dan global.   Hal paling penting yang disampaikan Prof. Togar adalah mengajak APTISI dan mitra strategisnya melakukan integrasi layanan tridarma pendidikan tinggi dari semua anggota APTISI melalui  SPADA Indonesia dan ICE Institute. Melalui layanan terintegrasi tersebut PTS dapat berbagi data dan sumber daya.


Prof. Togar juga menyampaikan bahwa Kementerian akan memfasilitasi integrasi dan sinergi anggota APTISI melalui berbagai kebijakan seperti rekognisi, narasumber, MoU APTISI dengan mitra dan program serta kegiatan lainnya yang berdampak bagi anggota APTISI dan Indonesia.

 

Tindak lanjut dari audiensi tersebut adalah APTISI dan para mitra diminta untuk membuat POKJA platform edukasi termasuk single database materi pembelajaran dan hasil karya tridarma serta budaya mutu yang akan diintegrasikan dengan SPADA Indonesia dan ICE Institute. Apabila POKJA telah siap, maka Kementerian akan memfasilitasi penandatangan MoU antara APTISI dengan mitra PT Surge dan AIPJII. 


Dengan sinergi antar pemangku kepentingan maka pendidikan tinggi menjadi inklusif dan multidimensi, mengakomodasi kebutuhan individu yang beragam serta memenuhi tuntutan industri yang terus berkembang.


Audiensi dengan Bapak Sesjen Kemendiktisaintek dihadiri oleh Sesjen APTISI Dr. Arief Kusuma Among Praja, Wakil Ketua APTISI bidang pembelajaran dan akademik Dr. Paristiyanti Nurwardani dan Dr. Ridwan Maronrong, CEO  PT Surge d Bapak Yune Marketanto, dan Founder PT Surge Bapak Hendrik Lee serta dari Ketua APJII Bapak Muhammad Arif.



/

5

Ulas Sekarang