Buleleng–Transformasi pendidikan tinggi saat ini menuntut perubahan mendasar dalam cara kampus berkontribusi terhadap pembangunan. Tidak lagi sekadar menghasilkan pengetahuan, perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat solusi yang mampu menjawab berbagai persoalan strategis bangsa secara konkret, terukur, dan berdampak.
Dalam kerangka kebijakan Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi lintas perguruan tinggi serta keterhubungan dengan pemerintah, industri, masyarakat, dan media melalui pendekatan pentahelix.
Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, pendidikan tinggi masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Ketimpangan akses masih terlihat dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) sebesar 32,89%, sementara di wilayah 3T masih jauh lebih rendah, seperti di Papua Pegunungan yang baru mencapai sekitar 12,23%. Di sisi lain, APK PT Bali sudah mencapai di atas rata-rata nasional, yakni 38,15% (Badan Pusat Statistik, 2025). Walaupun demikian, masih terdapat disparitas kualitas antarkampus serta tantangan relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja akibat belum optimalnya kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya langkah terintegrasi untuk memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan nasional.
Sebagai respons atas tantangan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menghadiri Kuliah Umum sekaligus Penandatanganan Kesepahaman Pembentukan Konsorsium Pendidikan Bali yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Kampus Singaraja, Senin (15/6).
Konsorsium ini dibentuk sebagai wadah kolaborasi strategis antarkampus di Bali untuk mengintegrasikan tridarma perguruan tinggi dalam pembangunan daerah, mengembangkan model solusi berbasis bukti (evidence-based solution), mendorong mentoring antarperguruan tinggi, serta memperkuat implementasi kolaborasi pentahelix.
Penandatanganan kesepahaman ini melibatkan berbagai perguruan tinggi di Bali serta disaksikan unsur kementerian dan pemerintah daerah sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang kolaboratif dan berdampak.
Wamen Fauzan menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi hanya dapat dicapai melalui perubahan cara kerja yang kolaboratif dan terstruktur.
“Supaya bisa bersinar maka harus berubah. Bangsa ini sudah lama menjalankan pendidikan dengan cara yang biasa-biasa saja, padahal harus ada value yang bisa kita jual. Pentingnya konsorsium ini adalah melahirkan value yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat melalui pemerintah daerah. Karena itu, kehadiran perguruan tinggi di mana pun berada harus mampu berkontribusi terhadap pembangunan daerah,” ujar Wamen Fauzan.
Wamendiktisaintek juga menekankan bahwa perguruan tinggi tidak dapat lagi berjalan sendiri dalam menjawab tantangan pembangunan.
“Selama ini perguruan tinggi memiliki komoditas riset yang luar biasa, tetapi masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal jika dilakukan bersama-sama, akan memberikan radius dampak yang jauh lebih luas,” lanjut Wamen Fauzan.
Senada dengan itu, Rektor Universitas Pendidikan Ganesha, I Wayan Lasmawan menyampaikan bahwa masih terdapat fragmentasi antarkampus yang menyebabkan kontribusi pendidikan tinggi belum optimal dalam menyelesaikan persoalan daerah, khususnya di bidang pendidikan.
“Saya berharap melalui konsorsium ini akan terbangun kolaborasi tanpa batas. Harapannya, konsorsium ini nantinya memberikan warna dan memperindah lanskap pendidikan di Indonesia melalui pemecahan masalah tanpa batas. Mari kita mulai bekerja nyata dalam kebersamaan yang terus bertumbuh. Jangan sampai persoalan pendidikan terlalu lama menghiasi Pulau Bali yang indah ini, ” ujar Rektor Undiksha.
Sementara itu, kebijakan Diktisaintek Berdampak menekankan pentingnya hilirisasi riset, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta percepatan implementasi inovasi agar manfaat pendidikan tinggi dapat langsung dirasakan masyarakat.
Pendekatan pentahelix menjadi fondasi penting dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, masyarakat, dan media untuk mempercepat pembangunan berbasis pengetahuan.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat kolaborasi melalui model konsorsium tematik seperti Konsorsium Pendidikan Bali. Kolaborasi ini diharapkan segera diimplementasikan dalam bentuk program nyata seperti riset kolaboratif lintas kampus, Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik berbasis isu daerah, penguatan hilirisasi inovasi, serta program mentoring antarkampus.
Melalui langkah bersama ini, perguruan tinggi diharapkan menjadi penggerak utama dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat serta memperkuat daya saing Indonesia menuju negara maju berbasis ilmu pengetahuan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak






