Tapanuli Selatan-Upaya pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah Sumatra pada akhir 2025, tidak hanya datang dari pemerintah daerah dan relawan kemanusiaan. Mahasiswa juga turut hadir ke wilayah terdampak, membawa teknologi dan inovasi tepat guna.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) menghadirkan berbagai inovasi pemulihan berbasis agroekologi, sociopreneurship, serta konseling trauma bagi masyarakat terdampak banjir bandang, di Desa Hutagodang, Sumatra Utara, Kamis (5/3).
Ketua tim pelaksana program sekaligus dosen Fakultas Pertanian UM Tapsel, Darmadi Erwin Harahap menjelaskan pendekatan yang digunakan dalam program pemulihan tersebut.
“Melalui pendekatan agroekologi, kami mengajarkan pembuatan bahan organik sebagai media tanam serta pupuk cair untuk meningkatkan kesuburan tanaman di lahan yang terdampak banjir,” ujar Darmadi.
Kegiatan ini berlangsung selama Februari 2026, di mana mahasiswa bersama masyarakat melakukan persiapan lahan serta menanam berbagai komoditas hortikultura seperti bayam, sawi, kangkung, dan jagung. Salah satu mahasiswa peserta program, Wira Hasibuan, menjelaskan bahwa perubahan karakter tanah menjadi tantangan utama bagi masyarakat setempat.
“Akibat banjir, tanah di Hutagodang menjadi lebih berpasir sehingga masyarakat belum yakin apakah tanaman seperti bayam, sawi, atau kangkung bisa tumbuh di sana. Kami ingin menunjukkan bahwa dengan teknik yang tepat, tanah berpasir tetap bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman,” ujarnya.
Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan pembuatan pupuk organik cair sederhana yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan tanaman. Pupuk ini dibuat dari fermentasi campuran telur, monosodium glutamat, dan air.
Program Mahasiswa Berdampak ini juga mencakup pelatihan sociopreneurship untuk membantu masyarakat membangkitkan kembali aktivitas ekonomi setelah bencana. Warga dilatih membuat produk olahan makanan serta mempelajari cara memasarkan produk melalui media sosial.
Selain aspek ekonomi dan pertanian, mahasiswa dari program studi Bimbingan Konseling turut memberikan sosialisasi terkait pengelolaan trauma yang masih dirasakan sebagian masyarakat setelah banjir bandang.
Salah satu warga Desa Hutagodang, Mila Erlina Napitupulu, mengaku program tersebut membantu masyarakat melihat kembali peluang untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya terdampak banjir bandang.
“Sebelum banjir, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sawah. Ada juga yang beternak kambing dan kolam yang siap panen bernilai puluhan juta, semuanya hanyut saat banjir,” kata Mila.
Mila mengaku bersyukur atas kehadiran mahasiswa dan dosen yang membantu masyarakat mulai bangkit kembali. Menurutnya, banyak hal seperti pengetahuan jenis tanah, menanam sayur, membuat pupuk, hingga mengembangkan kemampuan lain seperti pembuatan kue menjadi sangat bermanfaat dalam keseharian mereka.
“Kami bisa berkumpul, belajar bersama, dan mulai mencoba berjualan lagi. Kami berharap pendampingan seperti ini bisa terus berlanjut agar lahan di sini bisa kembali diolah dalam skala yang lebih besar,” ujar Mila.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek terus mendorong perguruan tinggi untuk menghadirkan inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat. Program ini menjadi bagian dari upaya transformasi pendidikan tinggi agar kampus tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan lingkungan di masyarakat.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






