Jakarta–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Terpadu yang dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Senin (4 / 5 ).
Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung pembangunan Giant Sea Wall di sepanjang Pantura Jawa berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Pembangunan ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang menetapkannya sebagai proyek strategis nasional, guna melindungi pesisir utara Jawa dari ancaman penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut.
Dalam kesempatan tersebut, Mendiktisaintek menegaskan komitmen untuk menggerakkan peran perguruan tinggi dan ekosistem riset dalam mendukung proyek ini secara konkret.
“Ini memang tantangan besar, tetapi sekaligus membuka peluang strategis bagi pengembangan keilmuan, teknologi, dan industri nasional. Kita membutuhkan pemodelan hidrodinamika yang presisi, teknologi konstruksi pantai yang adaptif, inovasi material, hingga pemahaman sosial ekonomi masyarakat pesisir secara komprehensif,” ujar Menteri Brian.
Saat ini Kemdiktisaintek telah mendorong para guru besar, dosen, dan peneliti di berbagai perguruan tinggi untuk melakukan riset yang relevan, baik dari aspek teknologi maupun sosial kemasyarakatan. Lebih lanjut, Mendiktisaintek menekankan pentingnya penguasaan teknologi nasional dalam pembangunan Giant Sea Wall, sejalan dengan arahan Presiden.
“Kita ingin pembangunan ini juga menjadi sarana transfer teknologi dan penguasaan teknologi oleh anak bangsa melalui kampus-kampus. Ke depan, kita berharap Indonesia tidak hanya mampu membangun, tetapi juga dikenal sebagai pemilik teknologi pengembangan tanggul laut,” tutur Mendiktisaintek, Brian Yuliarto.
Penandatanganan Nota Kesepahaman ini memperkuat komitmen Kemdiktisaintek dalam menggerakkan kontribusi perguruan tinggi sebagai center of excellence, mendorong pemanfaatan hasil riset dan inovasi untuk pembangunan infrastruktur pesisir, menyediakan tenaga ahli multidisiplin, serta mengintegrasikan pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat dalam proyek strategis nasional.
Sejumlah perguruan tinggi seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), telah terlibat aktif dalam penyediaan tenaga ahli, kajian teknis, serta pengembangan teknologi.
Keterlibatan ini sejalan dengan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang menekankan bahwa pendidikan tinggi, sains, dan teknologi harus memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan strategis bangsa. Proyek perlindungan Pantura Jawa menjadi contoh konkret bagaimana riset dan inovasi diterapkan langsung untuk menjawab tantangan perubahan iklim, penurunan muka tanah, dan risiko banjir rob.
Ke depan, implementasi Nota Kesepahaman ini diharapkan mampu mempercepat integrasi kebijakan dan pelaksanaan di lapangan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk pembangunan nasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif







