Upaya Menjaga Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah

Kabar

17 February 2026 | 19.15 WIB

Upaya Menjaga Pendidikan Pascabencana di Aceh Tengah

Tenda darurat kini menjadi ruang kelas sementara bagi siswa dari SD Negeri 11 Pegasing. Bangunan sekolah mereka tak lagi dapat digunakan. Sembilan ruang kelas tertimbun tanah hingga beberapa meter, sementara dua ruang lainnya roboh tertimpa pohon besar. Bagi para guru dan siswa, kehilangan itu bukan hanya soal gedung, tetapi juga soal rasa aman.


Di tengah keterbatasan, harapan mulai tumbuh dari 50 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Takengon yang hadir melalui Program Mahasiswa Berdampak, inisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).


Mereka tidak hanya membantu mengajar, tetapi juga mengajak anak-anak bermain, menggambar, bernyanyi, mengikuti permainan tradisional, juga berkesenian khas Aceh.


Bagi Suhartini, dosen pembimbing lapangan program mahasiswa berdampak STIH Muhammadiyah kehadiran mahasiswa bukan sekadar membantu proses belajar. 


“Program ini bertujuan memastikan anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan sekaligus membantu pemulihan psikologis mereka. Kehadiran mahasiswa membantu mengembalikan semangat belajar siswa meskipun sarana yang tersedia masih terbatas,” ungkap Suhartini.


Di tengah tenda yang sederhana, mereka perlahan mendapatkan kembali rasa percaya diri setelah melewati pengalaman traumatis. Kepala sekolah SD Negeri 11 Pegasing, Yusrizal mengakui proses belajar belum berjalan optimal karena jumlah tenda masih terbatas. Namun ia bersyukur kegiatan pendidikan tetap dapat berlangsung, meski dalam kondisi darurat.


“Akibat bencana ini, kegiatan belajar mengajar sementara dilakukan di tenda darurat,” tutur Yusrizal.


Dengan tiga tenda yang sekarang tersedia, proses belajar mengajar dibagi dalam sesi pagi dan sore. Sementara itu, bagi Andrean Ramadhan, koordinator lapangan mahasiswa Berdampak STIH Muhammadiyah menyebutkan bahwa pengalaman ini memberi pelajaran yang tak didapat di ruang kuliah. Andrean melihat sendiri bagaimana kegiatan seni sederhana dan permainan tradisional mampu membantu anak-anak melupakan sejenak ketakutan mereka.


“Respons dan antusiasme anak-anak sangat baik, terutama saat mengikuti kegiatan seni dan permainan tradisional. Hal ini menunjukkan semangat mereka untuk kembali belajar dan bangkit dari kondisi yang mereka alami,” ujarnya.


Selain memberikan dukungan kepada masyarakat, program ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengembangkan empati, kepedulian sosial, serta kemampuan berkontribusi dalam penanganan dampak bencana.


Kemdiktisaintek menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak merupakan bagian dari komitmen kementerian dalam memperkuat kontribusi pendidikan tinggi bagi masyarakat serta memastikan keberlanjutan layanan pendidikan, khususnya bagi peserta didik di wilayah terdampak bencana.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Kemdiktisaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif


/

5

Ulas Sekarang