Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat transformasi perguruan tinggi dan riset kampus sebagai fondasi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Ngopi Bareng Media dan Iftar yang digelar sebagai ruang dialog terbuka antara pemerintah dan insan pers untuk memperluas diseminasi kebijakan serta memperkuat pemahaman publik terhadap arah transformasi pendidikan tinggi, Jumat (13/3).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan bahwa penguatan ekosistem pendidikan tinggi, riset, dan inovasi merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga motor penggerak lahirnya solusi inovatif bagi berbagai tantangan pembangunan nasional.
“Periode ini merupakan fase krusial dalam memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045, dengan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi sebagai pilar utama peningkatan daya saing bangsa,” ujar Menteri Brian dalam sambutan pada dokumen Rencana Strategis Kemdiktisaintek 2025–2029.
Melalui berbagai kebijakan strategis, Kemdiktisaintek berupaya membangun sinergi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pemerintah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat lahirnya talenta unggul, inovasi berdampak, serta memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan.
Komitmen tersebut juga tercermin dalam berbagai capaian sektor pendidikan tinggi. Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) meningkat dari 30,28% pada 2019 menjadi 32% pada 2024. Angka ini terus diusahakan bersama untuk ditingkatkan hingga target 38,04% pada 2029.
Upaya memperluas akses pendidikan tinggi turut dilakukan melalui peningkatan jumlah penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Pada 2022, penerima KIP Kuliah sekitar 780 ribu mahasiswa. Pada 2024, jumlahnya telah melampaui satu juta penerima, dan pada 2025 ditargetkan mencapai 1,04 juta mahasiswa.
Plt. Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco menyampaikan bahwa kolaborasi dengan media menjadi bagian penting dalam menyampaikan berbagai transformasi yang tengah dilakukan kementerian.
“Dukungan dari media sangat penting untuk mewujudkan ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang saling menguatkan, sesuai amanat Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto,” ujar Plt. Sesjen Badri.
Di bidang tata kelola ekosistem pendidikan tinggi, Kemdiktisaintek menegaskan bahwa tidak ada dikotomi antara Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Data menunjukkan bahwa pada 2025 sekitar 72,2% penerima tunjangan sertifikasi dosen berasal dari PTS. Selain itu, 62,2% judul penelitian yang didanai pemerintah juga berasal dari PTS, yakni sebesar Rp686,9 miliar. Sebanyak 60% dana pengabdian kepada masyarakat juga dialokasikan bagi perguruan tinggi swasta.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi menambahkan bahwa PTN dan PTS merupakan bagian dari satu ekosistem pendidikan tinggi nasional yang saling melengkapi. Kemdiktisaintek ditegaskan terus melakukan pembinaan melalui berbagai skema serta memperkuat peran Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) agar layanan pendidikan tinggi menjangkau kampus di berbagai daerah.
Kemdiktisaintek juga mendorong penguatan kapasitas dosen melalui program studi lanjut. Saat ini sekitar 24,89% dosen di Indonesia telah berkualifikasi doktor atau sekitar 75.431 orang, dan pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 32% atau sekitar 96.981 doktor pada 2029.
Di tingkat internasional, pemerintah juga tengah memperkuat strategi internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia. Upaya ini berfokus pada penguatan ekosistem pendukung seperti fasilitas pendidikan, kemudahan mobilitas, serta kerja sama antarnegara.
Pada bidang sains dan teknologi, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani menyampaikan bahwa kementerian tengah mengembangkan berbagai program strategis, termasuk penguatan talenta unggul melalui ekosistem Sekolah Garuda yang meliputi Sekolah Menengah Atas (SMA) Unggul Garuda dan Beasiswa Garuda.
Sementara itu, di bidang riset dan inovasi, Kemdiktisaintek terus mendorong penelitian yang berdampak langsung bagi masyarakat. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman menyampaikan bahwa jumlah proposal penelitian yang diajukan pada tahun ini meningkat signifikan sebesar sekitar 118.000 proposal, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kemdiktisaintek juga mendorong keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian dan penanganan bencana. Sebanyak 10.090 mahasiswa telah dikirim ke berbagai wilayah terdampak bencana, dengan kontribusi pada enam bidang utama, antara lain air dan sanitasi, pangan dan gizi, kesehatan, infrastruktur, dukungan psikososial, serta sistem informasi dan manajemen bencana. Konsorsium Trilateral Indonesia Timur juga dilaksanakan bersama sejumlah perguruan tinggi untuk menurunkan risiko stunting dan kemiskinan ekstrem melalui rencana aksi untuk solusi di bidang pangan, kesehatan, kebudayaan, pendidikan, dan ekonomi.
Dengan berbagai langkah tersebut, Kemdiktisaintek berharap pendidikan tinggi Indonesia tidak hanya mampu memperluas akses dan meningkatkan kualitas, tetapi juga menghasilkan talenta unggul serta inovasi yang berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan peningkatan daya saing bangsa di tingkat global.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






