Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan pentingnya penguatan kemampuan berpikir mendalam (deep thinking) dan berpikir sistemik (system thinking) bagi aparatur sipil negara (ASN) dalam menghadapi kompleksitas tantangan global di era transformasi digital. Hal tersebut disampaikan dalam sesi Inspirative Talks pada Kemenkeu Learning Festival 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan, Selasa (28/4).
Dalam dialog interaktif Wamen Stella menekankan bahwa pembelajaran saat ini tidak lagi cukup berfokus pada akumulasi informasi, tetapi pada kemampuan memproses dan memaknai informasi secara efektif.
“Cognitive science itu adalah information processing. Jadi di dunia ini begitu banyak informasi yang masuk ke kita lewat indera. Tetapi tidak semua informasi itu diolah oleh otak kita,” ujar Wamen Stella.
Wamendiktisaintek menjelaskan bahwa derasnya arus informasi, terutama melalui platform digital, telah mempengaruhi kemampuan fokus individu. Penurunan attention span menjadi tantangan utama yang berdampak pada kualitas pemahaman dan pengambilan keputusan, khususnya dalam menangani persoalan yang kompleks.
Menurut Wamen Stella, kondisi tersebut menuntut tidak hanya ASN untuk mampu mengelola dua sistem berpikir, yaitu berpikir cepat (fast thinking) dan berpikir lambat (slow thinking). Dalam konteks kebijakan publik, pendekatan berpikir lambat yang analitis dan reflektif menjadi kunci dalam menghasilkan solusi yang tepat dan berkelanjutan.
“Ambil waktu untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan bukan sekadar solusi sementara, tetapi solusi yang menyelesaikan akar permasalahan secara sistematis, atau system thinking,” tegas Wamen Stella.
Lebih lanjut, Wamen Stella menyoroti pentingnya penguatan kapasitas SDM melalui keseimbangan antara keterampilan umum (general skills) seperti berpikir kritis, komunikasi, dan kepemimpinan, serta keahlian teknis (technical expertise) yang mendalam. Kombinasi keduanya dinilai menjadi fondasi dalam membangun sistem kerja yang efektif dan adaptif.
Dalam aspek tata kelola, Wamendiktisaintek juga menekankan perlunya pergeseran paradigma dari pengukuran berbasis input menuju pengukuran berbasis hasil (outcome). Keberhasilan kebijakan harus dilihat dari dampak nyata yang dihasilkan, bukan semata tingkat penyerapan anggaran.
Partisipasi Wamen Stella dalam forum ini mencerminkan komitmen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang menempatkan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sebagai penggerak solusi nyata bagi pembangunan nasional.
Melalui penguatan budaya belajar sepanjang hayat, kemampuan berpikir kritis, dan pendekatan berbasis analisis sistemik, diharapkan ke depan mampu menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan di tengah dinamika perubahan global.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif







