Wamendiktisaintek Tinjau Lokasi Pengabdian Mahasiswa Berdampak di Aceh

Kabar

08 May 2026 | 21.00 WIB

Wamendiktisaintek Tinjau Lokasi Pengabdian Mahasiswa Berdampak di Aceh

Pidie Jaya-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie meninjau langsung lokasi pengabdian Program Mahasiswa Berdampak di Meunasah Dayah Usen, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Kunjungan ini dilakukan untuk melihat secara langsung dampak program pemulihan pasca bencana yang melibatkan perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam membangun ketahanan sosial dan ekonomi warga terdampak banjir, Jumat (8/5).


Dalam kunjungan tersebut, Wamendiktisaintek menegaskan bahwa penanganan pasca bencana perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendekatan riset dan pemberdayaan masyarakat.


“Bantuan pasca bencana ini bukan sekadar bantuan biasa, melainkan riset pasca bencana. Riset pasca bencana inilah yang memang difokuskan untuk memikirkan bagaimana mengembalikan kehidupan yang hilang akibat bencana tersebut,” ujar Wamen Stella.


Kunjungan langsung Wamendiktisaintek ke lokasi juga dilakukan untuk mengevaluasi dampak program yang telah berjalan bersama Universitas Syiah Kuala (USK).


“Tujuan saya datang langsung untuk melihat dan mengevaluasi, namun bukan menilai bagus atau jelek. Tetapi mengevaluasi dampak yang sudah dirasakan oleh masyarakat dari program yang sudah kami lakukan bersama tim USK,” tutur Wamendiktisaintek.


Dalam kesempatan tersebut, Wamen Stella juga menyampaikan komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan berkualitas melalui Program Sekolah Garuda yang berada di bawah koordinasi Kemdiktisaintek yang ditujukan bagi anak-anak berprestasi dari berbagai daerah agar memiliki kesempatan bersaing di tingkat global. 


Sementara itu, Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri menjelaskan bahwa banjir besar yang terjadi pada 25 November 2025 memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat, sekitar 950 hektar sawah terendam, serta melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat.


Wakil Bupati Hasan berharap adanya dukungan pembangunan hunian yang lebih aman terhadap bencana dan meminta perhatian khusus bagi mahasiswa asal daerah terdampak banjir yang sedang menempuh pendidikan di berbagai daerah.


“Anak-anak yang sedang berkuliah di kampus mana saja bisa diberikan dispensasi biaya, kalau bisa diberikan bantuan biaya hidup agar bisa menyelesaikan kuliah dan saat mereka pulang bisa berkarya di kampungnya. Jangan sampai mereka putus asa karena orang tuanya tidak mampu lagi mengirim uang,” tutur Wakil Bupati Hasan.


Riset dan Inovasi Kampus Hadir di Tengah Masyarakat Pasca Bencana 


Selain meninjau sektor pendidikan, Wamendiktisaintek juga melihat langsung hasil pemberdayaan ekonomi masyarakat pascabanjir melalui pelatihan usaha yang telah dijalankan warga, seperti keripik tempe dan brownis yang saat ini sudah dipasarkan melalui platform digital. Pada momen tersebut Wamen Stella menyoroti pentingnya promosi untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor yang berkelanjutan.


“Promosi seperti itu menurut saya penting, karena ini bukan hanya sekadar bantuan sesaat, tetapi bisa menjadi mata pencaharian. Jadi bukan membantu sekali lalu selesai, melainkan benar-benar menciptakan sumber penghidupan,” jelas Wamendiktisaintek.


Ketua TP-PKK Pidie Jaya, Asmawati Sibral menyampaikan bahwa pendampingan dan pelatihan yang diberikan pascabanjir membantu masyarakat bangkit kembali dari keterpurukan. Asnawati menjelaskan pasca bencana masyarakat diberikan edukasi terutama penanganan mental  (trauma healing). Selain itu, masyarakat juga juga menjelaskan bahwa masyarakat memperoleh pelatihan usaha yang masih berjalan hingga saat ini.


“Beliau (dosen USK) juga memberikan pelatihan berupa PKM, yaitu pembuatan keripik tempe serta pembuatan brownies, yang Alhamdulillah masih berjalan sampai saat ini,” kata Asnawati.


Dalam tinjauan tersebut, Wamendiktisaintek juga berdialog dengan mahasiswa peserta Program Mahasiswa Berdampak dari USK yang menghadirkan inovasi sistem filtrasi air berbasis tenaga surya di Gampong Mesjid Tuha.


Mahasiswa Program Studi Teknik Komputer semester enam, Miftahul Rizki menjelaskan bahwa inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab persoalan akses air bersih saat banjir.


“Kami melihat bahwa di daerah rawan banjir seperti Gampong Mesjid Tuha, listrik konvensional sering mengalami pemadaman ketika banjir terjadi. Karena itu, kami menghadirkan solusi berbasis tenaga surya agar masyarakat tetap memiliki pasokan air bersih meskipun dalam kondisi banjir dan listrik padam,” ujarnya.


Sistem filtrasi air tersebut mampu menghasilkan sekitar 1.000 liter air bersih per dua belas jam bagi masyarakat terdampak. Miftahul juga menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program pengabdian merupakan bentuk kontribusi nyata kampus terhadap masyarakat.


“Kami percaya bahwa teori adalah cara untuk mencari jawaban, sedangkan pengabdian merupakan tempat bagi mahasiswa untuk menjadi jawaban atas kebutuhan dan persoalan yang dihadapi masyarakat,” tutupnya.



Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif


/

5

Ulas Sekarang